Falsafah Kesadaran dalam Tradisi Jawa dan Jejaknya dalam Naskah Klasik
Sastrajendra merupakan salah satu ajaran spiritual Jawa yang berakar pada tradisi keilmuan batin dan filsafat hidup masyarakat Nusantara. Ia tidak hanya dipahami sebagai ilmu kebatinan, tetapi juga sebagai jalan kesadaran yang menuntun manusia mengenali hakikat diri, kehidupan, dan hubungan dengan semesta. Dalam sejarahnya, Sastrajendra memiliki keterkaitan kuat dengan sejumlah naskah klasik Jawa yang membahas kawruh kasunyatan (pengetahuan tentang kebenaran hidup).
Ajaran ini dikenal luas melalui istilah Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, sebuah konsep filosofis yang menekankan pembebasan manusia dari kegelapan batin menuju kesadaran sejati.
Makna dan Akar Filosofis Sastrajendra
Secara etimologis:
-
Sastra berarti ilmu atau ajaran,
-
Jendra berkaitan dengan kesadaran luhur atau pengetahuan tinggi.
Dalam tradisi Jawa, Sastrajendra dimaknai sebagai ilmu tentang asal-usul dan tujuan hidup manusia. Ia mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki dimensi lahir dan batin. Ketidakseimbangan di antara keduanya akan melahirkan kegelisahan, konflik, dan penderitaan.
Filosofi ini menempatkan manusia sebagai bagian dari tatanan kosmis. Kehidupan tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan alam, masyarakat, dan kekuatan Ilahi.
Sastrajendra dalam Naskah Klasik Jawa
Pemahaman tentang Sastrajendra tidak lepas dari berbagai karya sastra dan filsafat Jawa, di antaranya:
-
Serat Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu
Naskah ini sering dikaitkan dengan ajaran kebijaksanaan para raja Jawa, terutama dalam lingkungan keraton. Isinya membahas perjalanan manusia untuk membersihkan diri dari sifat angkara murka dan mencapai kesempurnaan batin. -
Serat Wedhatama – KGPAA Mangkunegara IV
Mengajarkan pentingnya pengendalian diri, laku spiritual, dan kebijaksanaan hidup. Banyak nilai yang sejalan dengan prinsip kesadaran dalam Sastrajendra. -
Serat Wulangreh – Pakubuwono IV
Memuat ajaran moral, etika, dan pengendalian hawa nafsu sebagai jalan mencapai kehidupan yang tertata. -
Serat Centhini
Ensiklopedia budaya Jawa yang mencatat praktik spiritual, laku tapa, dan pandangan hidup masyarakat Jawa, termasuk dimensi kebatinan yang selaras dengan ajaran Sastrajendra. -
Serat Wirid Hidayat Jati – Ranggawarsita
Mengulas perjalanan spiritual manusia, hubungan hamba dengan Tuhan, serta kesadaran batin sebagai inti kehidupan.
Laku Spiritual dalam Sastrajendra
Sastrajendra menekankan bahwa pengetahuan tidak cukup dipahami secara intelektual. Ia harus dijalankan dalam laku kehidupan. Beberapa prinsip utamanya meliputi:
-
Eling (kesadaran diri)
Mengingat asal-usul dan tujuan hidup. -
Waspada (kejernihan batin)
Tidak mudah terjebak emosi dan dorongan nafsu. -
Nrima lan sabar (penerimaan dan kesabaran)
Menjalani hidup dengan keseimbangan batin. -
Tata laku (disiplin hidup)
Menjaga ucapan, pikiran, dan tindakan.
Laku ini dilakukan melalui refleksi diri, tapa batin, pengendalian diri, serta pengabdian kepada masyarakat.
Dimensi Kosmologis: Manusia dan Semesta
Dalam pandangan Sastrajendra, manusia diposisikan sebagai mikro kosmos (jagad cilik) yang mencerminkan jagad gede (alam semesta). Ketika manusia mampu mengenali dirinya, ia akan memahami keterhubungannya dengan seluruh kehidupan.
Konsep ini sejalan dengan ajaran Jawa seperti:
-
Manunggaling kawula lan Gusti (kesatuan hamba dan Tuhan),
-
Sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan hidup manusia),
-
Memayu hayuning bawana (menjaga harmoni dunia).
Relevansi di Era Modern
Di tengah kehidupan modern yang cepat dan kompetitif, Sastrajendra menghadirkan ruang refleksi. Banyak orang mengalami krisis makna, tekanan mental, dan kehilangan arah hidup. Ajaran ini mengajak manusia kembali pada kesadaran dasar:
-
mengenali diri,
-
menata emosi,
-
hidup selaras dengan nilai kebaikan,
-
serta membangun hubungan harmonis dengan sesama dan alam.
Spiritualitas tidak lagi dipandang sebagai pelarian, tetapi sebagai fondasi membangun manusia yang utuh.
Sastrajendra sebagai Warisan Pengetahuan Nusantara
Sebagai bagian dari tradisi intelektual Jawa, Sastrajendra merupakan warisan budaya yang memuat filsafat, etika, dan sistem pengetahuan tentang manusia. Ia bukan sekadar ajaran spiritual, tetapi juga kerangka berpikir tentang kehidupan.
Melalui komunitas, lembaga kebudayaan, hingga ruang pembelajaran modern, ajaran ini terus dipelajari dan dikontekstualisasikan. Tujuannya bukan hanya melestarikan tradisi, tetapi menjaga kualitas kesadaran manusia.
Kesimpulan
Sastrajendra mengajarkan bahwa perjalanan hidup manusia adalah perjalanan kesadaran. Ia menuntun manusia memahami asal-usul, menata laku, serta menemukan makna hidup yang lebih dalam.
Dalam dunia yang terus berubah, nilai-nilai seperti kesadaran diri, pengendalian emosi, kebijaksanaan, dan harmoni menjadi semakin penting. Sastrajendra hadir sebagai pengingat bahwa manusia tidak hanya hidup untuk bertahan, tetapi untuk memahami, bertumbuh, dan memberi makna pada kehidupan.
Referensi dan Sumber Pustaka
-
Serat Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (naskah klasik Jawa)
-
Mangkunegara IV, Serat Wedhatama
-
Pakubuwono IV, Serat Wulangreh
-
Ranggawarsita, Wirid Hidayat Jati
-
Serat Centhini (kompilasi sastra Jawa klasik)
-
Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa
-
Franz Magnis-Suseno, Etika Jawa
-
Simuh, Sufisme Jawa: Transformasi Tasawuf dalam Kebudayaan Jawa













